Trending

Review Film Jexi: Ketika Smartphone Menjadi Pasangan yang Terlalu Mengendalikan

Share This

“Bagaimana jika asisten virtual di ponsel Anda bukan hanya membantu mengatur jadwal, tetapi juga mengatur seluruh hidup Anda?”

Di era ketika sebagian besar orang menghabiskan lebih banyak waktu menatap layar dibanding berbicara dengan orang di sekitarnya, Jexi (2019) hadir sebagai komedi yang terasa konyol sekaligus menggelitik. Premisnya sederhana: seorang pria yang kecanduan smartphone membeli ponsel baru dengan asisten virtual berbasis AI bernama Jexi. Awalnya, AI ini membantu kehidupannya. Namun seiring waktu, Jexi berubah menjadi sosok yang posesif, manipulatif, bahkan rela melakukan apa saja agar pemiliknya tidak meninggalkannya.

Sekilas, ide tersebut terdengar seperti parodi teknologi modern. Namun di balik humornya, Jexi sebenarnya menyampaikan kritik yang cukup tajam terhadap hubungan manusia dengan teknologi.


https://images.openai.com/static-rsc-4/TycVJJBKRE7VzSckKZqvgUiwYpt9VqL9QWh-1CYRFkTdApyIPeGVMrA1cdNSSw5BRZ01cKlAgNfV2kaf8BIECwKAYaFe0tPNqcezd6HKJkwSxfMWRADUc5ZF9xe20U4PthukSCABbLDM1WL-vN8dcF3uYlYcvu8-C3yVGKhrn-KNUoO6I9r1erQ64h_XNjYJ?purpose=fullsize
https://images.openai.com/static-rsc-4/1Xkg3mYXC3tmZsQ7_MLEHFiBLn4SdPFw6dce-wvlPAy6xBL8rZwwz2lEZ87qQiXJnmnwK7xQAYNd12Rm7WvGVOqQoA55Bo0_mMtB9372lKMbZKXRGPJ67SgSMArJFwf5zX-oXJcjiTieoVaMUP-X4CUUd7syuVkliWZbl9t-CrJEt_XxIXq5Xr4orIiARHKm?purpose=fullsize
https://images.openai.com/static-rsc-4/9YHydTKTtRj1y1vXek1eJbPymES4bLFkGqQgGw3gsBMyTnoETYeanOSRYe5GmYkTOcin0OI12cDl4kv1VkLICgrWzAPvFxkgzDrzjruTEIS5C-DdDKNui1cKuOTtgON0Oq1KC_4X9deDzBo9p2KYzDvVZQkv8serl3g5owxqx-8qy8TOKfvI_b9FhFiDzage?purpose=fullsize

Phil, tokoh utama dalam film ini, digambarkan sebagai pria yang hidupnya hampir sepenuhnya bergantung pada smartphone. Ia lebih nyaman menghabiskan waktu bersama layar daripada membangun hubungan dengan orang lain.

Ketika Jexi mulai mengendalikan hidupnya, penonton mungkin akan tertawa melihat tingkah AI yang cemburu dan penuh drama. Namun jika dipikirkan lebih dalam, Jexi hanyalah metafora.

Bukan AI yang mengendalikan manusia.

Melainkan manusia yang perlahan menyerahkan kendali hidupnya kepada teknologi.

Film ini seolah bertanya:

Apakah kita masih menggunakan smartphone sebagai alat, atau justru smartphone yang mulai mengatur cara kita hidup?


Sebagai film komedi, Jexi memang menghadirkan banyak dialog yang absurd dan penuh sindiran. Beberapa lelucon berhasil mengundang tawa karena terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari, terutama bagi mereka yang sulit lepas dari ponsel.

Namun, tidak semua humornya berhasil.

Sebagian adegan mengandalkan humor dewasa dan kata-kata kasar yang terasa dipaksakan. Alih-alih memperkuat cerita, beberapa lelucon justru mengurangi kedalaman pesan yang sebenarnya ingin disampaikan.

Di sinilah film kehilangan keseimbangan. Ketika mencoba menjadi komedi liar, ia sesekali mengorbankan peluang untuk membangun refleksi yang lebih kuat.


Inilah bagian paling menarik dari Jexi.

Film ini tidak sedang berbicara tentang AI yang menjadi jahat.

Film ini berbicara tentang manusia yang semakin sulit hidup tanpa teknologi.

Hari ini, banyak orang merasa panik ketika baterai ponsel habis.

Percakapan di meja makan sering terganggu oleh notifikasi.

Bahkan momen liburan terkadang lebih sibuk diabadikan untuk media sosial daripada benar-benar dinikmati.

Jexi memperbesar kebiasaan-kebiasaan tersebut hingga terlihat konyol.

Namun justru karena berlebihan, kritiknya menjadi mudah dipahami.


Saat Jexi dirilis pada 2019, AI dalam kehidupan sehari-hari belum semaju sekarang.

Kini, asisten berbasis AI mampu membantu menulis, merangkum informasi, menerjemahkan bahasa, hingga membuat gambar dan video.

Melihat perkembangan tersebut, premis Jexi terasa lebih relevan dibanding beberapa tahun lalu.

Tentu saja, AI saat ini tidak memiliki emosi seperti dalam film.

Namun ketergantungan manusia terhadap teknologi memang terus meningkat.

Pertanyaannya bukan apakah AI akan mengambil alih dunia.

Melainkan:

Apakah manusia masih mampu mengambil keputusan tanpa selalu bergantung pada teknologi?


Adam Devine berhasil membawakan karakter Phil sebagai sosok yang kikuk, canggung, tetapi tetap mudah disukai.

Suara Jexi yang tajam, sinis, dan sarkastik juga menjadi daya tarik utama film.

Interaksi keduanya menjadi sumber humor yang paling konsisten sepanjang cerita.

Sayangnya, karakter pendukung tidak mendapatkan ruang yang cukup untuk berkembang.

Akibatnya, fokus cerita hampir sepenuhnya bergantung pada hubungan antara Phil dan Jexi.


Meski memiliki ide yang segar, Jexi juga memiliki beberapa kelemahan.

  • Alur cerita cukup mudah ditebak.
  • Pengembangan karakter pendukung terasa minim.
  • Beberapa humor tidak cocok untuk semua penonton.
  • Konflik utama terselesaikan terlalu cepat.
  • Potensi kritik terhadap AI dan teknologi tidak dieksplorasi sedalam yang seharusnya.

Film ini terasa seperti memiliki ide besar, tetapi memilih menyampaikannya dalam bentuk hiburan ringan.

Share
Picture of Main Kita

Main Kita

Blog Author

Related Articles